bt_bb_section_bottom_section_coverage_image

IkanMengenal Siklus Hidup Penyu, Dari Kawin Sampai Jadi Tukik

Maret 1, 2022by HEWANIA0

Hewanians, penyu merupakan salah satu hewan yang populasinya kini sudah makin terkikis. Selain karena ulah manusia, rasio keberhasilan penyu bertahan sampai dewasa juga hanya 1-3 %. Sudahkah kamu tahu siklus hidup penyu?

Indonesia merupakan rumah terbesar untuk spesies penyu di dunia. Bahkan, 6 dari 7 spesies penyu dunia hidup di perairan Indonesia. Oleh karena itu, kita wajib menjaga kelestarian hewan amfibi ini.

Nah, untuk menjaga penyu, sebaiknya kamu wajib ketahui dulu siklus kehidupan mereka yang ternyata menarik.  Berikut ini siklus hidup penyu yang wajib kamu ketahui!

Fase Kawin

Photo by Jess Loiterton from Pexels

Butuh Waktu Puluhan Tahun untuk Mencapai Usia Reproduksi

Siklus hidup penyu dimulai dengan dase kawin. Seluruh spesies penyu yang ada di dunia memiliki siklus hidup yang sama. Mereka memiliki pertumbuhan yang sangat lambat dan perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk mencapai usia reproduksi.

Perlu Jarak yang Jauh untuk Akhirnya Kawin

Sebelum akhirnya kawin, penyu biasanya hidup di satu tempat selama berpuluh-puluhan tahun. Kemudian, mereka bermigrasi ke sebuah tempat dengan jarak hingga 3.000 km untuk kawin dan bertelur di pantai.

Lalu, pada umur 20 hingga 50 tahun, penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran di sekitar daerah kelahiran mereka. Perkawinan mereka terjadi di lepas pantai, satu atau dua bulan sebelum peneluran pertama di musim tersebut.

Punya Banyak Pasangan Kawin

Baik penyu jantan maupun betina memiliki beberapa pasangan kawin. Penyu betina menyimpan sperma penyu jantan di dalam tubuh mereka untuk membuahi tiga hingga tujuh kumpulan telur (nantinya menjadi 3-7 sarang) yang akan menetas padai musim tersebut.

Kemudian, penyu jantan biasanya kembali ke laut setelah penyu betina menyelesaikan kegiatan bertelur. Biasanya kegiatan bertelur ini terjadi selama dua minggu. Saat penyu betina siap, ia keluar dari laut dengan cara menggunakan sirip depannya untuk menyeret tubuhnya ke pantai untuk bertelur.

Fase Membuat Sarang

Ilustrasi siklus hidup penyu membuat sarang
Photo by Amanda Martino from Pexels

Menggali Lubang untuk Menimbun Telur

Kemudian, fase siklus hidup penyu selanjutnya adalah membuat sarang.

Penyu betina membuat lubang badan dengan sirip depannya lalu menggali lubang sarang sedalam 30-60 cm dengan sirip belakangnya. Jika pasirnya terlalu kering dan tidak cocok untuk bertelur, penyu betina tersebut akan akan mencari lokasi lain.

Kebanyakan penyu memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk menggali sarang serta 10-20 menit untuk meletakkan telurnya. Tiap sarang berisi sekitar 120 butir telur kecuali penyu pipih (50 telur) dan belimbing (90 telur). Ukuran telur berkisar dari sebesar bola golf (penyu sisik) hingga bola billiard (penyu pipih).

Setelah meletakkan telurnya, kemudian penyu mengisi lubang sarang dengan pasir menggunakan sirip belakangnya, lalu menimbun badan dengan keempat siripnya.

Kembali Ke Laut Setelah 2 Jam di Laut

Setelah 1-2 jam keluar dari laut, penyu akhirnya kembali ke laut dengan lelah. Pada daerah lepas pantai tersebut, mereka mulai membuahi kumpulan sel telurnya dengan sperma yang ia simpan sebelumnya.  

Setelah musim bertelur berakhir penyu betina kembali ke perairan laut lepas yang jauh. Ia tidak akan bertelur lagi untuk 2-8 tahun mendatang.

Fase Tukik

Ilustrasi siklus hidup penyu saat fase tukik
Photo by Jolo Diaz from Pexels

Telur Menetas Setelah 7-12 Minggu

Setelah 7-12 minggu, telur akhirnya menetaskan tukik. Suhu sarang saat inkubasi menentukan jenis kelamin tukik. Jika suhu sarang hangat dan diisi oleh warna pasir gelap, maka kemungkinan  besar jenis kelamin tukik adalah betina. 

Sedangkan, jika suhu sarang relatif dingin dengan warna pasir putih, maka umumnya tukik yang menetas berkelamin jantan. Uniknya, tukik jantan memerlukan waktu yang lebih lama untuk menetas.

Tukik Kemudian Mencapai Laut

Kelompok tukik memerlukan waktu dua hari atau lebih untuk mencapai permukaan tanah, yang biasanya dilakukan pada malam hari. Kemudian, untuk menemukan arah ke laut, tukik menggunakan arah yang paling terang serta menggunakan topografi garis horison di sekitarnya. 

Begitu mencapai laut, tukik menggunakan berbagai kombinasi petunjuk (arah gelombang, arus dan medan magnet) untuk menuju ke daerah lepas pantai yang lebih dalam. 

Kegiatan tukik melewati pantai dan berenang menjauh adalah upaya untuk merekam petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk menemukan jalan pulang saat mereka akan kawin. Proses ini disebut imprinting process.

Memakan Rumput Laut dan Hewan Laut Berukuran Kecil

Saat tukik sudah berada di laut, mereka diduga memasuki kawasan dimana arus-arus laut bertemu. Disana mereka menggunakan rumput-rumput laut yang mengapung serta benda apung lain yang terperangkap oleh arus laut sebagai makanan.

Di sana mereka juga memakan hewan-hewan laut berukuran kecil. Setelah itu, tukik jarang terlihat lagi hingga kerapasnya mencapai ukuran 20-40 cm dengan usia sekitar 5-10 tahun setelah menetas. 

Pada saat ini si penyu berenang kembali ke kawasan pakan di pesisir. Mereka tinggal di daerah tersebut sampai mereka siap memijah, dan saat itu pulalah siklus hidup penyu dimulai lagi.

Baca juga: Populasinya Terancam, Yuk Selamatkan Penyu di Indonesia dengan 2 Cara Mudah Ini

Itulah informasi soal siklus hidup penyu, mulai dari fase kawin hingga fase tukik.

Jika kamu ingin membaca berita-berita menarik lain seputar hewan dan kesehatan hewan, kamu bisa membacanya disini ya. Selain itu, Hewania juga menyediakan layanan konsultasi dokter hewan gratis yang jadwalnya bisa kamu lakukan secara online.

Tersedia beragam pilihan dokter hewan dan juga jadwal konsultasi yang bisa kamu pilih secara fleksibel dan mudah.

Writer: drh. Novendra Sitapu

Editor: Galih Primananda Mulyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

hewania
Hewania HQ

PT Hewania Solusi Digital

Boulevard Elang Laut Blok D 50, Jl. Pantai Indah Selatan, Penjaringan, Jakarta Utara 14470
+62 812 3000 9607
Anda Dokter Hewan?

Mari Berkolaborasi Mengedukasi Masyarakat Indonesia tentang Kesehatan Hewan!

Daftar Sekarang!