bt_bb_section_bottom_section_coverage_image

KesehatanKucingVirus Rabies Bisa Picu Kematian Kucing, Kenali Tanda-Tandanya

September 6, 2021by hewania0

Rabies masih jadi momok bagi masyarakat Indonesia hingga saat ini. Informasi yang dilansir dari Sehat Negeriku milik Kementerian Kesehatan menunjukkan, angka kematian akibat rabies masih berkisar antara 100 hingga 156 kasus per tahunnya. Belum lagi, persentase Case Fatality Rate yang terbilang tinggi, yakni hampir 100 persen. Ini menjadikan rabies ancaman bagi kesehatan masyarakat di samping Covid-19.

Rabies sendiri sering diasosiasikan dengan anjing. Padahal tahukah kamu? Sebenarnya, virus penyebab rabies ini bisa menyerang mamalia apapun termasuk kucing kesayanganmu, lho! Lantas, apa sebenarnya rabies itu? Bagaimana penularannya dan apa saja gejalanya? Simak ulasan berikut.

Virus Rabies Serang Saraf Pusat, Begini Pola Penularannya

Meski bukan penyakit baru, mungkin ada Hewanians yang belum tahu, apa sebenarnya penyakit rabies itu. Dilansir dari pets.webmd.com, rabies merupakan penyakit pada sistem saraf pusat mamalia. Sesuai namanya, penyakit ini disebabkan oleh virus rabies.

Pola penularan rabies umumnya melalui gigitan dari hewan yang terinfeksi. Saat digigit, air liur akan mengantarkan virus rabies dari hewan tersebut, masuk ke hewan lain atau manusia yang digigitnya. Selanjutnya, virus yang masuk akan bergerak di sepanjang saraf hingga mencapai otak.

Masa inkubasi virus rabies pada tubuh hewan terbilang beragam. Mulai dari sepuluh hari hingga satu tahun. Tidak menutup kemungkinan masa inkubasi lebih lama dari itu. Pada kucing, inkubasi virus rabies dapat dikatakan lebih singkat daripada masa inkubasi pada anjing, yakni tiga sampai delapan minggu saja.

Saat virus mencapai otak, gejala-gejala rabies baru terlihat. Begitu gejala pertama ditunjukkan, hanya perlu waktu 7-10 hari hingga virus menyebabkan kematian pada penderitanya. Lalu apa yang mempengaruhi kecepatan perkembangan virus rabies?

Waspadai Tiga Hal Ini yang Menentukan Cepatnya Perkembangan Virus Rabies

Faktor pertama yang mempengaruhi cepatnya perkembangan virus rabies dalam tubuh hewan adalah lokasi infeksi. Seperti yang dipaparkan sebelumnya, infeksi virus rabies terjadi akibat gigitan. Semakin dekat lokasi gigitan tersebut dengan otak dan sumsum tulang belakang, maka penyebaran virus ke jaringan saraf pun semakin cepat. Dengan begitu, gejala rabies juga akan terlihat lebih cepat.

Tingkat keparahan gigitan juga menjadi faktor penentu lainnya. Tentunya, semakin parah gigitan, maka akan semakin besar potensi perkembangan virus rabies. Tapi perlu diperhatikan, kadang ada gigitan hewan yang hanya menyebabkan luka ringan, seperti gigitan kelelawar. Hal ini justru berbahaya karena kita sulit mendeteksi luka ringan tersebut.

Meski begitu, Hewanians dapat mengantisipasinya dengan memperhatikan gerak-gerik hewan yang menggigit. Jika kamu melihat pergerakan yang tidak wajar dari hewan tersebut, seperti menyerang tanpa alasan, maka kemungkinan besar hewan tersebut terinfeksi rabies. Segera periksa dan konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat sesegera mungkin.

Terakhir, jumlah virus yang masuk saat terjadi gigitan. Tentu ini bukanlah hal yang mudah untuk diketahui. Namun, bila masa inkubasi terjadi dalam waktu yang relatif singkat, dapat dikatakan bahwa jumlah virus rabies yang masuk ke dalam tubuh hewan tergolong banyak.

Ini Gejala yang Tampak Jika Kucing Kesayanganmu Terinfeksi Virus Rabies

Gejala yang paling mencolok pada tahap pertama (prodromal) adalah perubahan temperamen yang drastis. Sebagai contoh, kucing kesayanganmu selama ini tampak begitu pendiam. Akan tetapi secara tiba-tiba ia berubah menjadi sangat agresif. Nah, perubahan perilaku tersebut patut dicurigai. Begitupun jika seekor kucing agresif mendadak berubah menjadi sangat pendiam.

Tahap berikutnya kerap disebut rabies ganas. Dimana pada tahap ini, seekor kucing yang terinfeksi virus rabies akan terlihat semakin gugup, mudah tersinggung dan ganas. Gejala lain yang bisa diamati adalah kejang otot serta produksi air liur yang berlebihan. Kucing yang sudah masuk tahap rabies ganas ini juga sering menolak untuk menelan. Bila Hewanians melihat gejala-gejala ini, maka sebaiknya membatasi interaksi dengan kucing kesayangan. Sebab, kondisi ini sangat membahayakan baik untuk hewan maupun pemiliknya.

Terakhir adalah tahap paralitik. Dimana tahap ini biasanya terjadi setelah tujuh hari. Kucing yang terinfeksi virus rabies akan mengalami perburukan kesehatan, koma hingga akhirnya mengalami kematian.Melihat bahaya yang ditimbulkan akibat infeksi virus rabies, maka sebaiknya Hewanians memperhatikan kesehatan kucing kesayangan dengan tidak membiarkannya berinteraksi dengan hewan liar terlalu sering. Selain itu, vaksin rabies juga dapat diberikan sebagai upaya pencegahan tertularnya rabies. Jika Hewanians melihat satu atau beberapa gejala di atas, maka segera hubungi dokter hewan untuk berkonsultasi dan mendapat penanganan yang tepat. Kamu dapat menggunakan layanan teleadvice dokter hewan Hewania di sini.

Penulis: Jessica Patricia Tanjung
Ditinjau oleh: drh. Nevita Setyo Anastasia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

hewania
Hewania HQ

PT Hewania Solusi Digital

Boulevard Elang Laut Blok D 50, Jl. Pantai Indah Selatan, Penjaringan, Jakarta Utara 14470
+62 812 3000 9607
Anda Dokter Hewan?

Mari Berkolaborasi Mengedukasi Masyarakat Indonesia tentang Kesehatan Hewan!

Daftar Sekarang!