bt_bb_section_bottom_section_coverage_image

KucingKesehatanPelajari Siklus Hidup Cacing pada Kucing yang Menular ke Manusia Disini!

Desember 29, 2022by HEWANIA0

Layaknya manusia, kucing juga sangat berisiko terkena cacingan. Infeksi cacing pada kucing ini tak hanya bertahan di dalam tubuhnya saja, melainkan juga bisa menular ke manusia melalui tinja atau feses kucing tersebut. Waspadai penularan penyakit cacing kucing dengan informasi mengenai cacing pada kucing yang menular ke manusia di bawah ini. 

Baca juga: Berapa Lama Kucing Hamil? Ini Jawabannya!

1. Cacing Gelang 

Cacing gelang atau roundworm merupakan salah satu parasit intestinal yang paling sering menyerang kucing, yang menyebabkan penyakit ascariasis. Tidak hanya sekadar menyebabkan penyakit, namun cacing gelang juga bisa menyebabkan kematian pada anak kucing. Infeksi oleh cacing gelang dialami oleh hampir semua kucing, khususnya saat usianya masih kecil. 

Cacing gelang memiliki bentuk badan yang bulat lebar menyerupai gelang, dengan panjang sekitar 8 hingga 15 sentimeter. Alih-alih hidup dengan cara menempel di permukaan dinding usus kucing layaknya parasit intestinal lainnya, cacing gelang bertahan di dalam tubuh kucing dengan cara berenang atau bergerak bebas di dalam usus kucing. 

Saat menginfeksi kucing dewasa, cacing gelang terbilang tak begitu berbahaya. Namun, berbeda dengan saat cacing gelang menginfeksi anak kucing. Saat anak kucing terinfeksi oleh cacing gelang, maka akan timbul gejala seperti perut yang membuncit, rasa tidak nyaman di perut, berkurangnya nafsu makan, bulu yang rontok, mual, muntah, dan pertumbuhan yang terganggu.

Umumnya, kucing terinfeksi oleh cacing gelang karena tidak sengaja tertelan telurnya dari feses kucing yang sudah terinfeksi sebelumnya. Setelah tertelan telur akan menetas dan mengeluarkan larva, yang kemudian berkembang menjadi cacing gelang dewasa di usus. Penularan pada manusia terjadi karena terjadi kontak dengan feses kucing yang mengandung telur cacing gelang ini. 

Baca juga: Apakah Kucing Hamil Boleh Dimandikan? Ini Penjelasannya!

2. Cacing Tambang 

Cacing pada kucing menular ke manusia selanjutnya adalah cacing tambang atau hookworms. Cacing yang menyebabkan penyakit ancylostomiasis ini memiliki panjang hanya 2 hingga 3 milimeter saja, sehingga akan sulit melihatnya dengan mata telanjang. Jenis cacing tambang yang menyerang kucing adalah Ancylostoma ceylanicum dan Ancylostoma tubaeforme

Cacing tambang cenderung menetap di lapisan dalam usus kecil, lalu mengonsumsi cairan jaringan tubuh dan darah kucing. Saat cacing tambang ini menghisap darah kucing, maka dirinya akan menginjeksikan zat antikoagulan pada area yang dihisapnya tersebut, sehingga mencegah darah menggumpal. Akibatnya, kucing bisa kehilangan darah secara terus-menerus. 

Saat kucing mengalami infeksi cacing tambang, kamu bisa coba kenali dari gejala yang ditimbulkannya. Infeksi cacing tambang akan memicu gejala seperti muncul lesi pada kulit akibat larva cacing yang menembus kulit dan berpindah melalui jaringan, batuk, diare disertai darah, feses berwarna gelap, kehilangan berat badan, berkurangnya nafsu makan, dan bibir pucat. 

Cacing tambang masuk ke dalam tubuh kucing yang tidak sengaja menelan larva yang sudah menetas dari telur cacing di dalam feses. Larva yang tertelan oleh kucing tersebut akan bergerak ke sistem pencernaan untuk menyempurnakan siklus hidupnya. Saat manusia kontak dengan feses kucing yang mengandung telur dan larva cacing tambang, pada saat itulah terjadi penularan. 

3. Cacing Pita 

Cacing pada kucing yang juga menular pada manusia adalah cacing pita. Sesuai dengan namanya, cacing yang tergolong sebagai parasit intestinal ini memiliki bentuk yang pipih dengan panjang cacing pita dewasa bisa mencapai hingga 30 sentimeter. Jenis cacing pita yang umum menginfeksi kucing adalah Dipylidium caninum

Cacing pita menggunakan bagian mulutnya yang menyerupai pengait untuk melekat di dinding usus kecil kucing. Saat cacing pita dewasa sudah matang, maka bagian tubuhnya yang disebut proglottids akan lepas dari tubuhnya, lalu dikeluarkan melalui feses kucing. Setelah mengering dan warnanya berubah keemasan, proglottids akan pecah dan mengeluarkan telur cacing pita lainnya. 

Saat kucing terinfeksi oleh cacing pita, kemungkinan tidak akan ada gejala yang kentara yang ditunjukkannya. Namun, kamu bisa coba cari tahu ada atau tidaknya infeksi cacing pita dari keberadaan proglottids yang menyerupai bulir beras dan berukuran 12 milimeter x 3 milimeter di bulu sekitar anus kucing dan pada feses yang ditinggalkannya di litter box

Cacing pita masuk ke tubuh kucing melalui kutu yang menelan telur cacing tambang tersebut. Telur di dalam kutu akan berpindah ke tubuh kucing saat kucing tak sengaja menelan kutu tersebut. Saat kutu dicerna oleh usus, telur cacing tambang akan menetas dan menempel di lapisan usus dan berkembang hingga dewasa di sana. 

Itulah tadi ulasan mengenai cacing pada kucing menular ke manusia, berikut dengan siklus hidupnya. Umumnya, penularan cacing tersebut ke manusia disebabkan karena terjadinya kontak langsung antara manusia dengan feses kucing yang mengandung telur atau larva dari cacing-cacing tersebut. 

Writer: drh. Carene Naomi

Editor: Galih Primananda Mulyana

Sumber: 

Ward, Ernest. Tapeworm Infection in Cats. VCA Animal Hospitals. Diakses pada tanggal 13 Desember 2022 melalui https://vcahospitals.com/know-your-pet/tapeworm-infection-in-cats

Ward, Ernest. Hookworm Infection in Cats. VCA Animal Hospitals. Diakses pada tanggal 13 Desember 2022 melalui https://vcahospitals.com/know-your-pet/hookworm-infection-in-cats

Ward, Ernest. Roundworm Infection in Cats. VCA Animal Hospitals. Diakses pada tanggal 13 Desember 2022 melalui https://vcahospitals.com/know-your-pet/roundworm-infection-in-cats

Gillette, Leslie. (2020, November 03). How to Get Rid of Worms in Cats. PET MD. Diakses pada tanggal 13 Desember 2022 melalui https://www.petmd.com/cat/parasites/worms-cats-everything-you-need-know

PetMD Editorial. (2009, Januari 06). Hookworms in Cats. PET MD. Diakses pada tanggal 13 Desember 2022 melalui https://www.petmd.com/cat/conditions/infectious-parasitic/c_ct_ancylostomiasis

Lantry, Stephanie. (2020, Mei 15). Tapeworms in Cats: Symptoms, Treatment, and Prevention. PET MD. Diakses pada tanggal 13 Desember 2022 melalui https://www.petmd.com/cat/conditions/infectious-parasitic/c_ct_cestodiasis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

hewania
appstore
playstore
Hewania HQ

PT Hewania Solusi Digital

Boulevard Elang Laut Blok D 50, Jl. Pantai Indah Selatan, Penjaringan, Jakarta Utara 14470
+62 812 3000 9607
Anda Dokter Hewan?

Mari Berkolaborasi Mengedukasi Masyarakat Indonesia tentang Kesehatan Hewan!

Daftar Sekarang!